Translate

Showing posts with label Gangguan Psikologi. Show all posts
Showing posts with label Gangguan Psikologi. Show all posts

Kepribadian Ganda (Bagian 4-2) - Tipe-Tipe Alter Identity

Seseorang bisa mengembangkan alter demonic, tipe alter yang memiliki kepribadian
setan, iblis, atau mahluk-mahluk jahat lainnya
Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai 4 jenis alter identity, atau kepribadian lain yang bisa berkembang pada diri seseorang dengan Dissociative Identity Disorder (DID). 4 alter identity yang dijelaskan pada kepribadian sebelumnya adalah kepribadian binatang, kepribadian anak-anak, bayi, dan balita, kepribadian iblis, setan, dan jahat, kepribadian orang cacat.

Pada artikel ini kita akan melanjutkan pembahasan artikel sebelumnya, yaitu membahas mengenai tipe-tipe alter identity yang belum disebutkan. Agar anda bisa memahami apa itu Dissociative Identity Disorder (DID) atau yang lebih dikenal dengan gangguan kepribadian ganda, anda bisa membaca artikel-artikel dibawah ini.

Baca juga :


Kepribadian Ganda (Bagian 4-1) - Tipe-Tipe Alter Identity

Mr. Hyde adalah salah satu contoh alter ego dari Dr. Jekyll
Kepribadian ganda atau yang dalam istilah psikologi lebih dikenal dengan istilah Dissociative Identity Disorder (DID) adalah gangguan dimana seseorang memiliki beberapa macam kepribadian (alter identity).Orang yang memiliki kepribadian ganda akan sering kehilangan ingatannya, dia tidak sadar dengan apa yang telah dia lakukan, sering tidak sadar memiliki barang baru ataupun kehilangan barang baru karena dia berganti-ganti kepribadian, kepribadian-kepribadian tersebut lah yang menghilangkan atau mendapatkan barang-barang tersebut.

Pada artikel sebelumnya kita membahas banyak hal mengenai kepribadian ganda. Mulai dari pengertiannya, ciri-ciri orang yang mengalami kepribadian ganda, penyebab dan penanganan atas gangguan tersebut, bahkan kita telah membahas apakah kepribadian ganda hanya mitos atau benar-benar ada. Karena sampai saat ini kepribadian ganda masih merupakan gangguan yang cukup kontroversial. Seseorang yang mengalami gangguan ini sering dianggap sebagai seseorang yang ahli dalam berakting, sehingga cukup sering gangguan kepribadian ganda dianggap sebagai gangguan yang mengada-ngada.


Pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas mengenai berbagai macam alter identity yang bisa muncul pada seorang dengan Dissociative Identity Disorder (DID). Pada pembahasan kali ini kita akan membahas mengenai berbagai macam kepribadian yang bisa muncul pada seseorang dengan gangguan kepribadian ganda.

Alter identity adalah kepribadian lain yang berkembang pada seorang dengan Dissociative Identity Disorder (DID) karena pengalaman traumatik yang mereka alami. Sementara alter identity menguasai tubuh, host identity atau kepribadian asli akan tertidur dan mereka tidak akan sadar apa yang dilakukan oleh alter identity. Kepribadian lain yang muncul pada diri seseorang bisa berbagai macam, mulai dari yang umum seperti : kepribadian pelindung, kepribadian anak kecil, kepribadian dengan jenis kelamin yang berbeda dan lain sebagainya, hingga kepribadian yang sifatnya tidak umum : seperti menjadi binantang dan salah satu bagian tubuh.

Kecemasan Tidak Hanya Merusak Kesehatan Psikologis Anda

Gambar diambil dari wisegeek.com
Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas mengenai gambaran umum gangguan somatisasi, penulis kali ini ingin membahas tentang penyebabnya. Seseorang bisa merasakan banyak penyakit, tapi ketika diperiksa mereka sehat-sehat saja, sebenarnya apa sih yang terjadi dalam diri mereka? Kenapa mereka seperti itu?

Jawabannya adalah, Mereka yang mengalami gangguan somatisasi orang-orang yang cenderung cemas, mereka adalah orang yang terlalu sensitif terhadap gejala-gejala fisik yang ia rasakan, hal ini disebabkan karena dia memaknakan gejala tersebut sebagai sesuatu yang bisa membahayakan dirinya. Misalnya merasa pegal-pegal, atau sedikit pusing, mereka menganggap hal tersebut adalah penyakit serius yang perlu ditangani dokter.

Berbagai macam rasa sakit yang muncul, perasaan tidak nyaman, atau adanya disfungsi seksual yang terjadi, menurut para ahli hal ini merupakan hasil dari kecemasan berlebihan yang cenderung tidak realistis terhadap gejala-gejala fisik yang ia rasakan. Jadi sebenarnya mereka itu tidak sakit apa-apa, tapi karena mereka cemas munculah perasaan-perasaan tidak enak pada tubuh, dan seakan-akan tubuh menjadi sakit.

Bersesuaian dengan hal tersebut yaitu faktor kecemasan, orang yang mengalami gangguan somatisasi cenderung memiliki tingkat hormon kortisol yang tinggi. Biasanya orang yang memiliki hormon kortisol yang tinggi adalah orang yang sedang berada dalam tekanan. Tingginya level kortisol ini dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan somatisasi, gangguan yang sangat berkaitan dengan gangguan ini adalah gangguan kecemasan dan gangguan panik, yang mungkin akan kita bahas lagi di artikel selanjutnya.

Penyakit Ini Tidak Akan Bisa Ditangani Oleh Dokter



Alice adalah seorang wanita yang dirujuk ke klinik psikologi oleh dokternya. Dokter yang bernama Joyce William ini, adalah dokter yang telah menangani dia selama enam bulan dan dalam enam bulan tersebut sudah terjadi 23 pertemuan antara dia dan Alice

Wanita ini -Alice- mengeluhkan banyak hal kepada dokter tersebut, dan dokter Joyce William sendiri merasa kebingungan dengan keluhannya, mulai dari rasa sakit yang dirasakan seluruh badanmual-mual, merasa sangat kelelahan, pusing-pusing, dan siklus menstruasi yang tidak teratur

Yang membingungkan adalah, bahkan setelah melalui pemeriksaan secara lengkap, menggunakan rontgenpemeriksaan tulang belakang, dan pemeriksaan lainnya, hal itu tidak menunjukan gejala apapun.

Hal yang pertama dilakukan Alice ketika ia bertemu dengan psikolognya adalah dengan, mengatakan bahwa ia sebenarnya tidak mau untuk pergi pada psikolog, dia mengatakan bahwa dia pergi kepada psikolog hanya karena dia mempercayai dr. Williams yang merujuknya untuk datang ke klinik tersebut

Ia berkata, ”yang sakit pada saya adalah terkait dengan fisik, saya tidak tahu apa yang bisa dibantu oleh psikolog terkait dengan penyakit saya”. Walaupun berkata demikian, ketika Alice ditanya dan diminta untuk menceritakan riwayat keluhan-keluhan penyakitnya Alice menyambut hangat tawaran itu

Kenapa Seseorang Bisa Depresi Berat



              Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas mengenai gambaran umum, contoh kasus, ciri-ciri, dan sedikit mengenai penyebab depresi, atau dengan nama resminya disebut dengan major deppression disorder, sekarang kita akan membahas dengan lebih dalam apa yang bisa menyebabkannya. Untuk lebih spesifik mengenai hal ini dan agar bacaan ini terasa lebih ilmiah, mari kita lihat apa penyebabnya dari sudut pandang teori-teori psikologi. 

           Ada beberapa teori yang membahas tentang major deppression disorder, diantaranya adalah teori psikoanalisa, teori kognitif depresi, teori interpersonal depresi, teori eksistensial tentang depresi, bahkan para ahli juga berusaha melihat depresi dari sudut pandang biologis. Tapi agar bacaan ini tidak terlalu panjang, mari kita melihat gangguan ini dari sudut pandang teori psikoanalisa, yang merupakan salah satu teori terbesar dan tertua dalam ilmu psikologi.

            Dalam tulisannya yang terkenal “Mourning and Melancholia”, Sigmund Freud (1917/1950) berteori bahwa potensi depresi diciptakan pada awal masa kanak-kanak. Dalam periode oral (tahap perkembangan anak, sejak lahir hingga usia 1.5 tahun), kebutuhan seorang anak bisa kurang terpenuhi atau terpenuhi secara berlebih (terlalu banyak diberi makan, atau menyusu berlebih, atau bahkan sebaliknya). Hal ini akan menyebabkan

Sedih Berlebihan? Segera Periksakan Kesehatan Psikologis Anda

Malam hari, 12 Juni 1994, adikku Nicole terbunuh, rasa sakitku tidak bisa dijelaskan dan tidak dapat diukur. Kejadian ini sangat terkenal dan sering dibicarakan di media sosial, sehingga sangat sulit untukku melewati rasa sedih dan rasa kehilangan adikku. Aku sulit untuk melupakan kejadian itu, sehingga aku menekan emosiku dan memilih untuk terus terdiam. 

Sepuluh tahun berlalu, hiduku sudah cukup stabil. Aku memiliki pekerjaan dan secara finansial tercukupi. Lalu di tahun 2004, aku bertunangan dan berencana untuk menikah. Tetapi empat hari sebelum pernikahan berlangsung, tunanganku pada saat itu tiba-tiba membatalkannya. Aku sangat depresi dan rasanya sangat sulit bagiku, bahkan hanya untuk bangun dari tempat tidurpun terasa sangat berat. 

Aku merasa lumpuh secara fisik dan mental. Pada saat itu aku tidak menyadari bahwa ini adalah sebuah awal dari kehidupan baru. Selama satu bulan aku merusak diriku. Aku minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan, menjadi gampang tersinggung dan mudah marah. Aku berada dalam pola hidup yang tidak sehat dan tidak tahu apa yang harus kulakukan. 

Lalu, pada 9 oktober 2004, semua emosi yang selama sepuluh tahun ini kupendam meledak. Saat acara kumpul keluarga, aku berbicara dengan kata-kata yang tidak pantas dan mengamuk pada orang-orang yang kucintai, bahkan aku “menghancurkan” hati beberapa orang yang sangat berharga bagiku. Aku sekarang menemukan diriku berada di kamar, memegang beberapa butir pil dan berpikir untuk mengakhiri hidup ini, berusaha mengakhiri semua penderitaan yang sekarang kurasakan. Tetapi disisi lain, ada bagian dari diriku yang berpikir bahwa ini adalah hal yang sia-sia dan sadar bahwa diriku terlahir untuk sesuatu yang lebih baik lagi. 

Aku sadar bahwa sebenarnya aku tidak mau mati. Pada saat itulah saudara perempuanku memasuki kamarku, aku menjatuhkan pil-pil yang tadinya kupegang dan berkata padanya “bawa aku pergi dari sini”. Dia membawaku pada seorang teman dimana aku bisa beristirahat dan menenangkan diri. Pagi kesokan harinya, saudara ku berkata “apakah kau sudah siap?”, aku mengerti maksudnya. Aku siap mengambil satu langkah untuk sembuh.

Penyebab Seseorang Bisa Menjadi Pedofil

Beberapa waktu yang lalu penulis sempat membaca tentang ditemukannya suatu situs komunitas pedofil. Didalamnya terdapat bergiga-giga video porno anak dan jumlah membernya hingga 9000 orang. Walaupun ada para pedofil yang tidak menyukai kekerasan terhadap anak, dan mereka cenderung "hanya" melekakuan pelecehan seksual, tapi didalam situs tersebut tidak sedikit orang yang senang melihat anak kesakitan, memperkosa, dan bereksperimen untuk menemukan cara baru untuk menikmati hal tersebut. Orang-orang yang mengerikan bukan? sebenarnya apa sih yang menyebabkan mereka menjadi seperti itu.

Pedofil yang cenderung melakukan kekerasan terhadap anak mungkin mereka mengidap gangguan lain selain pedofil, sebagai misal gangguan antisosial yang gambaran dan penyebabnya dibahas dalam artikel lain. Tapi penyebab pedofil menurut beberapa ahli mengatakan bahwa orang bisa mengidap pedofilia karena lemahnya pengendalian dorongan-dorongan seksual, dan kurang memiliki keterampilan sosial. Para ahli psikoanalisa mengatakan bahwa seseorang dengan pedofilia melakukan hal tersebut sebagai tindakan untuk melindungi ego atau dirinya dari rasa takut. 

Seorang pedofil dilihat sebagai orang yang merasa takut untuk membangun hubungan yang wajar dengan lawan jenis, mereka takut bahkan ketika hubungan dengan lawan jenis bukanlah hubungan yang bersifat seksual. Misalnya,

Predator Seksual Anak



         Masih segar dalam ingatan kita mengenai kasus pelecehan seksual terhadap seorang anak di salah satu sekolah ternama Indonesia, JIS (Jakarta International School). Di Indonesia kasus-kasus seperti ini tidak hanya terjadi satu atau dua kali, tapi beberapa kali terhitung dalam beberapa tahun terakhir. Jika kita mundur satu tahun kebelakang, kita akan menemui kasus Emon, yang melakukan pelecehan terhadap 120 anak dan menuliskannya di buku harian yang dia miliki. Lalu kita juga akan menemui kasus Tjandra Adi Gunawan, sang penyebar 10000 foto porno anak di bawah umur, dan diduga bahwa dia terkait dengan jaringan pedofil internasional. 

         Kita mundur lagi lima tahun kebelakang kita akan menemui kasus Baequni atau Babeh, pelaku sodomi dan pembunuhan terhadap 14 anak laki-laki dan memutilasi empat orang diantaranya. Baequni atau babeh sempat menyebutkan nama Robot Gedek, atau Ciswanto, siapakah dia? Jika kita mundur lebih jauh, memasuki tahun sembilan puluhan kita akan menemui dia sebagai seorang pembunuh sadis, dia melakukan pelecehan seksual terhadap sembilan anak, membunuh mereka dengan cara mencekiknya dengan rapia, menyayat perut korban yang sudah tidak bernyawa dengan silet, dan meminum darahnya. Selain kasus-kasus ini, beberapa kasus lain pun ditemukan di Indonesia terkait dengan pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Seperti telah disebutkan diatas, tema kita saat ini adalah gangguan yang melibatkan hubungan seksual terhadap anak-anak. Gangguan ini dikenal dengan nama Pedofilia. Apa sih Pedofilia itu? Berdasarkan DSM, pedofil

Berbagai Cara Menangani OCD



Dari gambaran artikel sebelumnya mengenai OCD mungkin membuat kita menjadi bertanya-tanya, adakah cara untuk terhindar dari gangguan ini? Atau adakah cara untuk mengobati gangguan ini? Sebenarnya para ahli belum menemukan cara yang dapat dilakukan untuk mencegah gangguan obsesif-kompulsif. tetapi, ada beberapa terapi dan pengobatan yang bisa dilakukan sejak dini sehingga hal tersebut bisa mencegah gangguan obsesif-kompulsif ini berkembang menjadi lebih parah, diantaranya : 

1. Exposure and Ritual Prevention (ERP)
Pendekatan terapi ERP dilakukan dengan menekankan penyembuhan terhadap pikiran-pikiran penderita OCD yang menyebabkan perilaku kompulsif yang mereka lakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang mereka anggap tidak menyenangkan atau menakutkan. Metode ini dilakukan dengan membuat seseorang membiarkan dirinya menghadapi situasi yang menyebabkan munculnya pikiran obsesif. Sebagai misal, memegang piring kotor yang membuat mereka berpikir untuk mencuci tangan karena takut terinfeksi. Setelah hal itu

Hati-Hati Dengan Perilaku Berulang Berlebih

Gangguan yang dikenal dengan nama Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) atau gangguan obsesif-kompulsif yaitu merupakan suatu gangguan kecemasan yang membuat orang menjadi terpaksa berpikir mengenai suatu hal sehingga dia harus melakukan hal tersebut berulang-ulang. Hal ini tentu sangat mengganggu kehidupan sehari-hari orang yang bersangkutan dan pasti menyebabkan tekanan bagi orang tersebut. 

Bayangkan jika anda seseorang yang terpaksa terus-menerus berpikir bahwa lingkungan anda adalah lingkungan yang penuh dengan kuman, terkontaminasi, dan anda berpikir bahwa apapun yang anda lakukan lingkungan anda akan selalu kotor. Hal ini membuat anda takut untuk bersentuhan langsung dengan benda-benda disekitar anda, mengganggu bukan? Apa lagi jika pikiran-pikiran tersebut membuat anda melakukan hal yang sama berulang-ulang, sebagai misal karena anda merasakan adanya pikiran mengenai lingkungan yang kotor, pikiran-pikran tersebut memaksa anda untuk menghabiskan waktu empat jam setiap hari untuk mandi dan membersihkan diri, menghabiskan waktu dengan menguyah tepat 300 kali setiap makanan anda agar makanan tersebut terbebas dari kuman, atau harus menggunakan sarung tangan ketika hendak menyetuh sesuatu bahkan untuk menyentuh benda yang cukup simpel seperti remote.

Terdengar berlebihan? Tapi itulah gangguan yang sebagian orang alami. Gangguan obsesif-kompulsif adalah

Paranoid Adalah Hasil Dari "Memupuk" Perasaan Negatif Terhadap Orang Lain



     Setalah di artikel sebelumnya kita membahas tentang gambaran umum paranoid, sekarang kita akan membahas tentang apa yang menyebabkannya. Beberapa ahli berpendapat bahwa salah satu penyebab dari gangguan kepribadian paranoid adalah faktor genetis, yaitu diturunkannya genetik yang berhubungan dengan gangguan skizofrenia, namun beberapa penelitian menunjukan bahwa faktor ini cenderung tidak konsisten. Selain faktor genetik ada juga faktor yang bersifat psikososial yaitu faktor yang diduga berperan dalam terjadinya gangguan kepribadian paranoid, penyebab psikososial bisa berasal dari orang tua yang melalaikan anaknya atau pernah mengalami perilaku pelecehan dan pernah mengalami kekerasan. Walaupun demikian, penyebab-penyebab ini bisa mengakibatkan seseorang juga mengembangkan gangguan lain, tergantung dari faktor-faktor dalam diri dan lingkungan yang menyebabkan seseorang mengembangkan gangguan yang “khas” orang tersebut.

     Tokoh yang pertama kali menjelaskan mengenai gangguan kepribadian paranoid adalah Adolf Meyer. Rumusan  awal dari gangguan kepribadian paranoid muncul dari perspektif psikoanalisa, yang menekankan bahwa seseorang bisa mengembangkan gangguan kepribadian paranoid karena adanya mekanisme pertahanan reaksi formasi danp royeksi

     Secara singkat reaksi formasi adalah melakukan

Kepribadian Yang Selalu Curiga



Kecurigaan adalah hal yang biasa, tentu untuk berjaga-jaga agar kita tidak tertipu atau berinteraksi dengan orang yang salah. Tapi ketika kecurigaan itu mulai berlebihan dan kita tidak mampu untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain, itu yang berbahaya. Kecurigaan berlebihan dalam psikologi merupakan suatu gangguan kepribadina yang disebut dengan Paranoid.


Apakah sih sebenarnya paranoid itu? Kata yang mungkin sering kita gunakan, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Tahukah pembaca, bahwa paranoid adalah salah satu dari sekian banyak gangguan kepribadian, gangguan yang menyebabkan seseorang selalu curiga terhadap orang lain. Seseorang dengan gangguan paranoid cenderung merasa bahwa dia diperlakukan dengan buruk oleh orang lain atau merasa bahwa dia dimanfaatkan oleh orang lain. hal ini membuat mereka selalu mencurigai orang dan cenderung waspada bahwa orang lain hendak menipu atau melecehkan mereka

Mereka cenderung kasar dan sering gampang marah pada sesuatu hal yang dianggap penghinaan. Mereka juga cenderung tidak mau mempercayai orang lain, ada kecenderungan untuk menyalahkan orang lain, dan mendendam walaupun pada kenyataannya dia yang salah dan anggapan mereka pada orang lain tidak terbukti benar. Seseorang yang mengalami gangguan paranoid, adalah seseorang yang terlalu sensitif, cenderung

Ini Adalah Penyebab Kenapa Orang Mengalami Fobia Kesehatan



    Setelah sebelumnya kita membahas gangguan yang dikenal dengan nama fobia kesehatan atau dengan nama lain yaitu hipokondriasis. Para ahli mengatakan bahwa pengetahuan tentang apa yang menjadi penyebab gangguan somatoform, salah satunya adalah hipokondria, masih dirasa sangat sedikit jika dibandingkan dengan pengetahuan tentang penyebab pada gangguan lain. Tetapi, ada dua faktor penyebab yang dianggap dapat menyebabkan seseorang mengembangkan gangguan hipokondria. Yaitu penyebab secara biologis dan penyebab secara psikososial.

   Secara biologis, penelitan meneemukan bahwa adanya faktor genetik dalam munculnya gangguan hipokondria, selain itu bisa juga karena adanya hipometabolisme atau penurunan metabolisme zat-zat  tertentu yang terdapat pada lobus frontalis dan hemisfer nondominan. Terdapat regulasi yang tidak normal pada sistem sitokin juga menjadi salah satu kemungkinan dalam menyebabkan dan merupakan beberapa gejala yang ditemukan pada orang dengan gangguan hipokondria. 

Selain penyebab biologis, para ahli juga menemukan penyebab

Fobia Kesehatan Akan Merusak Kesehatan Anda



Apakah pembaca pernah mengalami ketakutan menderita suatu penyakit serius tertentu? Atau pernahkah setelah membaca artikel, atau berita dalam majalah ataupun koran tentang suatu penyakit serius membuat anda menjadi merasakan bahwa kemungkinan anda juga menderita penyakit serius tersebut? Nah, kedua ciri yang disebutkan tersebut merupakan gambaran ringkas dari beberapa ciri yang dari fobia kesehatan atau dikenal jugan dengan nama gangguan hipokondria. Pertanyaan yang muncul adalah apa sih hipokondria itu?

Hypochondria merupakan gangguan dimana individu dikuasai oleh ketakutan bahwa dirinya kemungkinan menderita suatu penyakit serius tanpa adanya bukti keterangan medis. Individu yang memiliki gangguan hipokondria akan sibuk dengan ketakutan luar biasa terhadap penyakit yang bahkan belum tentu dia derita. Mereka takut luar biasa terhadap penyakit tertentu walaupun mereka bahkan tidak memiliki bukti medis apakah mereka terkena penyakit tersebut atau tidak. Ketakutan pada orang dengan gangguan hipokondria akan bertahan dan terus muncul dalam pikiran mereka, bahkan ketika medis tidak menemukan bukti dari keluhan yang mereka rasakan. 

Ketakutan ini tentu akan mengganggu kegiatan sehari-hari individu yang bersangkutan. Pada umumnya mereka akan mengalami

"Monster" Akan Melahirkan "Monster" Lainnya - Gangguan Kepribadian Antisosial (Bagian 2)

Mungkin ada yang bertanya-tanya gambar siapa disamping? Dia adalah Ted Bundy, seorang pembunuh berantai, yang dengan ketampanan dan kharismanya membuat wanita-wanita mencintai dia, lalu kemudian dia memperkosa dan membunuhnya. Dia terlahir dari hubungan tanpa pernikahan, yang keluarganya mencurigai bahwa ayahnya sebenarnya adalah kakeknya sendiri.Sejak kecil dia selalu berusaha menghindari stigma sosial karena dia tidak memiliki ayah. Dia dibesarkan dan seorang yang sangat mencontoh kakeknya, seorang yang rasis, kasar, dan "tiran" dirumahnya.

Kita mengawali artikel ini dengan sebuah biografi singkat, karena setelah kita membahas gambaran umum tentang seperti apa itu gangguan kepribadian antisosial, sekarang kita akan membahas apa yang menyebabkannya.

Interaksi dari faktor psikologis, biologis, dan sosiokultural bisa menyebabkan seseorang mengembangkan gangguan kepribadian antisosial. Anak yang memiliki orang tua dengan gangguan ini cenderung akan mengembangkan gangguan yang sama, genetik kembali berperan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi gangguan. Tapi bagaimanapun, genetik hanya menjadi faktor “bibit”, anak tidak akan mengembangkan gangguan yang bersangkutan jika mereka berada dalam lingkungan dan pola asuh yang sehat. 

Anak dengan kecenderungan seperti itu, atau bahkan anak yang tidak memiliki kecenderungan mengalami gangguan kepribadian antisosial jika dibesarkan dalam lingkungan yang tidak sehat, seperti orang tua yang cenderung menyiksa, atau lingkungan yang dipenuhi kriminal, mereka cenderung akan mengembangkan gangguan ini.

Anak-anak yang memiliki harga diri rendah dan kepercayaan diri rendah pun mungkin untuk mengembangkan gangguan kepribadian anti sosial. Kenapa? Karena mereka akan berusaha untuk membuktikan kemampuan mereka dengan cara yang salah, seperti dengan melakukan agresi dan melakukan perusakan terhadap orang dan binatang. Mereka akan menunjukan bahwa diri mereka hebat dengan hal-hal yang cenderung menyimpang.

Jika kita mengacu pada tokoh-tokoh yang telah disebutkan dalam artikel sebelumnya, sebagai misal Trevor dari GTA V adalah seorang anak yang tumbuh dengan berganti-ganti ayah sebanyak delapan kali, dan ayah-ayahnya tersebut adalah orang yang sering melakukan kekerasan fisik padanya, dan dia tumbuh dengan ibu yang melakukan kekerasan psikologis padanya dengan menghinanya sebagai anak yang tidak berguna.

Kriminal Tanpa Rasa Bersalah - Gangguan Kepribadian Antisosial (Bagian 1)

“Oh ya, bakal ada darah”

I
ni adalah salah satu kutipan dari tokoh fiktif bernama Jigsaw, tokoh utama dari film Saw. Dia mengatakan kalimat ini dengan sangat tenang, bahkan dengan tertawa dan tanpa menunjukan adanya perasaan bersalah atau perasaan takut, padahal dia hendak membunuh seseorang, dia hendak mencabut nyawa seseorang. Mungkin kebanyakan pembaca mengetahui siapa Jigsaw dan seperti apa penokohannya dalam film saw tersebut, seorang yang cerdas, dingin, dan kejam.

Beberapa tokoh fiktif yang mungkin bisa disetarakan dengan jigsaw dalam konten kejahatan dan kecerdasannya adalah Hanibal Lecter, seorang psikolog kanibal, tokoh utama dari novel dan film dengan judul yang sama yaitu Silence of The Lamb, atau bagi para penggemar game, pasti kebanyakan pernah bermain atau setidaknya mendengar game berjudul Grand Theft Auto V (GTA V), salah satu tokoh utama dari game tersebut, Trevor seorang yang mungkin bisa disetarakan juga dengan Jigsaw dan Hanibal Lecter dalam bahasan ini.

Pembahasan kali ini dimulai dengan menyebutkan nama-nama penjahat, nama-nama para psikopat yang tega membunuh dengan tanpa rasa bersalah. Yah, karena pada pembahasan kali ini kita akan membahas gangguan yang dikenal dengan sebutan Antisosial Personality Disorder, kita mengawalinya dengan para penjahat agar secara umum mendapatkan gambaran awal dari penyakit seperti apa yang akan dibahas pada artikel kali ini.

Antisosial Personality Disorder adalah gangguan yang membuat seseorang tidak mempedulikan hak orang lain, tidak mempedulikan aturan yang berlaku di masyarakat, dan bahkan melanggar hak-hak orang lain untuk memenuhi kesenangan dan tujuan pribadinya, dalam bahasa yang umum orang yang mengidap gangguan ini dipanggil dengan sebutan psychopath, atau sosiopath.

Antisosial bukanlah seperti pemahaman orang-orang awam yang mengatakan bahwa orang yang antisosial adalah seseorang yang tidak bisa bergaul, atau tidak mampu untuk bersosialisasi dan berbaur dengan orang lain. Orang-orang yang dilabeli dengan sebutan antisosial adalah orang-orang yang lebih mengerikan daripada itu, mereka tidak bisa bergaul dengan orang lain dalam cara yang biasa. Mereka bergaul dengan orang lain dengan cara melanggar hak-hak orang yang bersangkutan.

Perjalanan Menuju Keterasingan Dari Kenyataan - Schizophrenia (Bagian 3)


Gambar diatas mungkin hanya terlihat hanya seperti gambar kucing biasa, digambar dengan berbagai gaya lukis. Namun, sebenarnya gambar ini memiliki makna yang lebih dalam. Gambar ini adalah lukisan karya Louis Wain, seorang pelukis terkenal dari Inggris yang menderita gangguan schizophrenia. Dokter yang menangani Wain mengatakan bahwa lukisan yang dihasilkan olehnya menjadi semakin abstrak seiring dengan usianya yang semakin tua, dia pun mengatakan bahwa Wain mengalami gangguan schizophrenia bisa dilihat dari lukisannya tersebut.

Seperti yang telah dibahas dalam artikel sebelumnya, tentang gambaran orang yang mengalami gangguan schizophrenia. Wain melalui lukisannya mungkin menggambarkan bagaimana dia melihat kucing seiring dengan berjalannya waktu dengan pengalaman schizophreniknya. Kucing di mata Wain seiring berjalannya dengan waktu menjadi kucing, yang mungkin bagi orang-orang normal tidak terlihat seperti kucing. Lalu setelah kita membahas tentang gambaran umum schizophrenia, dan ciri-cirinya, mungkin ada yang bertanya apa sebenarnya penyebab gangguan ini? apa yang sebenarnya terjadi sehingga seseorang bisa menjadi terasing dari kenyataan?

Sebuah review dari penelitian mengenai scizophrenia mebuktikan bahwa, disamping kemajuan pesat dalam pemahaman menegenai ganguan ini, para ahli tetap tidak tahu mengenai inti dan penyebab dari gangguan ini. Para ahli masih memiliki kriteria diagnostik yang kurang reliable, dan valid untuk mendiagnosa schizophrenia. Ketika seorang peneliti berusaha untuk mencoba mengidentifikasi penyebab dari gangguan ini, keterbatasan dalam kriteria membuat mereka kesulitan melakukannya.

Teori  yang masih diperhitungkan dalam mendiagnosa penyebab shizophrenia terbagi kedalam dua kategori : biologikal dan psikologikal. Pada awal-awal perkembangan teori ini, sangat banyak perdebatan antara keduanya yang menentukan mana penyebab yang lebih dominan. Tetapi penelitian akhir-akhir ini, mulai bisa menerima bahwa faktor biologis dan pengalaman berinteraksi dan menjadi penentu schizophrenia dan mulai membangun teori yang kompleks yang menggabungkan beberapa faktor (Malmberg, Lewis, David, & Allebeck, 1998).

Model-model ini didasari oleh konsep kerentanan, mengajukan bahwa individu memiliki proposisi secara biologis untuk mengembangkan schizophrenia, tetapi gangguan tersebut bisa  berkembang hanya ketika beberapa kondisi di lingkungan terpenuhi.
Seseorang yang mempunyai kecenderungan biologis, misalnya hormon dopamin yang di keluarkan terlalu banyak oleh tubuhnya menjadi suatu kerentanan yang bisa mengarahkan seseorang pada schizophrenia. 

Tapi, schizophrenia tidak akan bisa terjadi sebelum ada pencetus yang menyebabkan gangguan ini muncul. Sebagai misal seseorang yang memiliki kerentanan biologis sejak kecil, dan diasuh dengan pola asuh otoriter (orang tua dengan keras mengarahkan anak untuk selalu mengikuti apa yang diminta oleh orangtua) sehingga menyebabkan kepribadian yang lemah, cenderung tidak bisa mengambil keputusan, ada perasaan agresi, dan sulit beradaptasi dengan lingkungan serta tidak mampu menyelesaikan masalah. 

Orang dengan kriteria seperti itu dihadapkan dengan masalah berat yang sulit untuk diahadapi, misal kesulitan secara ekonomi yang terus menerus, tekanan dari pekerjaan, atau kematian pasangan. Jika semua itu terpenuhi maka kemungkinan besar orang tersebut akan mengalami shcizophrenia.

Schizophrenia bukanlah hanya menjadi masalah si “pemilik” gangguan, tapi juga masalah bagi orang-orang disekelilingnya. Sehingga penting bagi kita untuk meningkatkan kepedulian terhadap gangguan ini. Untuk saat ini penanganan yang paling efektif terhadap gangguan ini adalah melalui obat-obatan. Dengan pemberian obat-obatan secara rutin dalam dosis tertentu, simptom-simptom pada orang schizophrenik bisa berkurang, terutama delusi dan halusinasi. 

Tapi, obat-obatan ini bukanlah tanpa efek samping, banyak efek samping yang bisa dirasakan oleh si peminum obat. Diantranya adalah gairah seksual yang terganggu, kelelahan yang berkepanjangan, gangguan siklus menstruasi pada wanita, kekakuan otot, dan sebagainya. Walaupun sudah ditemukan obat yang lebih muktahir pada zaman sekarang, bukan berarti obat itu tanpa efek samping. Masih ada efek samping, hanya intensitasnya lebih berkurang dari pada obat-obat yang “kurang muktahir”.

Selain terapi menggunakan obat-obatan, disarankan juga terapi perilaku. Terapi ini diharapkan bisa memperbaiki cara berpikir atau perilaku yang tidak bisa hilang oleh terapi obat-obatan. Dalam istilah psikologi terapi ini dikenal dengan istilah CBT (Cognitive behavioral Therapy), CBT adalah salah satu psikoterapi yang terfokus pada pikiran dan perilaku. CBT membantu pasien dengan simptom yang bahkan tidak dapat hilang dengan medikasi. 

Therapis pada CBT mengajarkan individu dengan schizophrenia bagaimana caranya mengetes realitas dari pikiran dan persepsi mereka, dan mengajarkan cara bagaimana cara untuk “tidak mendengarkan” pikiran-pikiran mereka, dan cara bagaimana mereka memange simptom mereka secara keseluruhan. CBT bisa membantu mengurangi tingkat keparahan simptom dan mengurangi resiko mereka untuk kambuh.

Terakhir, edukasi keluarga penderita. Hal sangat penting ini penting agar keluarga bisa mengerti kondisi yang dialami oleh penderita dan bisa bekerja sama dengan ahli dalam mencapai kesembuhan penderita. Sangat sering, penderita dengan schizophrenia dilepaskan dari perawatan rumah sakit dan dirawat oleh keluarganya ; jadi sangat penting bahwa anggota keluarga bisa belajar mengenai schizophrenia serta memahami kesulitan dan masalah yang diasosiakan dengan gangguan. 

Sangat penting juga bagi keluarga untuk belajar mengenai cara meminimalisir kemungkinan penderita untuk kambuh. Psychoeducation keluarga, yang didalamnya terdapat berbagai cara coping dan cara menyelesaikan masalah, mungkin bisa menolong keluarga untuk bisa lebih efektif dalam menghadapi anggota keluarga mereka yang sakit dan mungkin bisa menyumbang bagi perkembangan positif bagi penderita. 

Untuk mengetahui mengenai apa itu schizophrenia dan ciri-cirinya silahkan baca artikel ini :

Orang-Orang Yang Terjebak Dalam Dunianya Sendiri - Schizophrenia (Bagian 1)



Sumber :

Whitebourne, Halgin. 2003. Abnormal Psychology Clinical Perspective on Psychological Disorder International Edition. New York : McGraw-Hill

Spearing, Mellisa K. 2002. An Overview of Schizophrenia – Information from the National Institute of Mental Health. National Institute of Mental Health (NIMH).

Schizophrenia Symptoms. 23 Oktober 2014. Diambil dari http://schizophrenia.com/diag.php.

Psychological Explanations of Schizophrenia ppt. 23 Oktober 2014. Diambil dari www.thestudentroom.co.uk

McLeod, S. A. (2008). Mary Ainsworth. Diambil dari http://www.simplypsychology.org/mary-ainsworth.html

McLeod, S. A. (2009). Attachment Theory. Diambil dari http://www.simplypsychology.org/attachment.html
Greenwood, Beth. The Baumrind Theory of Parenting Styles. Diambil dari http://everydaylife.globalpost.com/baumrind-theory-parenting-styles-6147.html

National Institutes of Health. (2009) Schizophrenia. Diambil dari http://www.nimh.nih.gov/health/publications/schizophrenia/index.shtml